Public
Speaking Training adalah salah satu program kerja dari Biro Hubungan Luar.
Acara ini berupa seminar dan talkshow yang diisi oleh pembicara handal dan
expert di bidangnya, yaitu Fellexandro Ruby dan Didi Mudita. Di
sesi pertama, Pak Fellexandro memberikan materi mengenai kiat dalam menyusun
presentasi yang menarik perhatian dalam bentuk power point. Beliau menjelaskan bahwa penyusunan dalam bentuk power point harus se-efektif mungkin. Gambar adalah sarana pendukung agar presentasi dalam power point kita terlihat menarik. Selain itu, beliau juga memaparkan seputar
tips-tips menarik mengenai cara berpresentasi
yang baik dan benar di depan public. Para peserta yang merupakan mahasiswa jurusan Ilmu Ekonomi sangat antusias
dalam acara ini. Seminar
ini tidak hanya diisi dengan presentasi dan pemaparan yang menarik, namun juga
diselingi games meniup balon yang dibawa oleh Pak Fellexandro dalam mengisi acara tersebut. Alhasil
para peserta seminar dibuat tertawa pada acara seminar tersebut. Acara
yang diadakan pada hari Rabu, 24 April 2013 di Student Center ini berlangsung
selama kurang lebih tiga jam. Di
sesi kedua diisi oleh Pak Didi Mudita. Beliau sangat handal dalam public speaking. Banyak sekali pengetahuan dan pengalaman yang beliau share pada acara seminar
tersebut. Para peserta diajarkan bagaimana mengatur body language, menjawab pertanyaan yang baik dan benar ketika interview, membuat closing statement yang menarik, dan masih banyak lagi.
16.5.13
14.5.13
Rich Economics
Oleh : Alvin Ulido | Staff Divisi Kajian KANOPI 2013 | Ilmu Ekonomi 2011
Why
Knowing the Rich More MattersF
Dalam
sejarah ilmu ekonomi, golongan sosioekonomi yang paling banyak diteliti adalah
golongan pra-sejahtera (kurang mampu, atau dalam bahasa yang lebih vulgar,
miskin). Tujuan penelitian golongan pra-sejahtera biasanya sangat bervariasi,
mulai dari perilaku ekonomi golongan ini hingga cara-cara radikal golongan ini
untuk keluar dari garis kemiskinan. Definisi tentang siapa yang masuk dalam
golongan ini pun sangat beragam; walaupun definisi internasional tentang orang
miskin adalah mereka yang berpendapatan kurang dari $2/hari, kemiskinan sangat
beragam dan kompleks sehingga subjek dan objek penelitian menjadi sangat
beragam dan kaya dalam variasi.
Kelas
menengah merupakan objek yang, walaupun secara tradisional kurang banyak
dilirik oleh ekonom sebagai subyek penelitian, mulai mendapat perhatian lebih,
terutama sebagai subyek penelitian di negara-negara berkembang. Kebangkitan
negara-negara berpendapatan menengah juga menjadikan topik mengenai evolusi
kelas menengah hangat dan relevan.
Apabila
golongan sosio-ekonomi bawah dan menengah sering menjadi subyek penelitian,
golongan sosio-ekonomi atas (re: kaya), secara mengejutkan, jauh lebih jarang
menjadi subyek penelitian. Hingga saat ini, penelitian mengenai golongan kaya
dilakukan jauh lebih banyak oleh pihak private
bank (bank/ unit bisnis suatu bank khusus individu dengan jumlah aset
tertentu, kebanyakan di atas jutaan USD) serta penelitian yang bersifat
komprehensif (tidak memiliki tujuan komersial tertentu) cenderung langka. Sangat
mungkin para peneliti ilmu sosial tidak melihat bahwa perilaku ekonomi golongan
kaya tidak memiliki urgensi yang cukup besar untuk diteliti dibanding perilaku
ekonomi golongan ekonomi lainnya, seperti golongan pra-sejahtera dan golongan
menengah. Mungkin saja hal berikutnya adalah bahwa golongan kaya, terutama
superkaya, memang jauh lebih susah untuk diteliti (terlalu sibuk, tidak mau
berbagi informasi keuangan, memiliki struktur keuangan yang kompleks, dsb.).
Namun,
apakah golongan kaya memang perlu mendapat perhatian yang sama dengan golongan
ekonomi lainnya untuk diteliti lebih jauh oleh para peneliti ilmu sosial,
terutama dalam ranah sosioekonomi?
Mengetahui
profil sosioekonomi dan kecenderungan pola transaksi keuangan golongan ekonomi
atas sama pentingnya dengan mengetahui golongan ekonomi bawah, karena:
1. Pengamatan lebih memungkinkan semua
pihak mengetahui siapakah orang yang kaya
Salah
satu dari sedikit penelitian yang dilakukan untuk mengetahui siapakah orang
kaya, terutama untuk kasus Indonesia, dilakukan oleh Leigh dan van der Eng
(2008) dengan kumpulan data untuk masa kolonial (1920-1939) dan periode
mutakhir (1982-2004). Menggunakan data yang paling akhir (tahun 2004), batas
minimum pendapatan untuk 10% orang berpendapatan tertinggi di Indonesia adalah
Rp 25.2 juta/tahun. Dengan asumsi tidak ada perubahan struktur distribusi pendapatan
(Koefisien Gini, pengukur ketimpangan, menunjukkan meningkatnya ketimpangan
pendapatan), maka mereka yang masuk dalam 10% pendapatan tertinggi adalah orang
yang berpendapatan di atas kira-kira Rp 90.48 juta/bulan. Hanya dengan Rp 7.5 juta/bulan, seseorang dapat
dikategorikan sebagai 10% penduduk
terkaya di Indonesia!
Tentu
saja 10% penduduk terkaya mungkin sangat jauh dari gambaran ideal mengenai
orang kaya. Hal ini sangat mungkin disebabkan oleh sangat condongnya definisi
masyarakat tentang “orang kaya” pada ekstrim atas distribusi pendapatan. Ambang
minimum untuk top 1% menurut data tahun 2004, setelah disesuaikan dengan pertumbuhan
PDB (mengasumsikan distribusi pendapatan konstan) adalah sekitar Rp 249.9
juta/tahun, atau sekitar Rp 20.8
juta/bulan. Hingga titik ini, bahkan notasi “the 1%” masih belum
mencerminkan kekayaan yang sangat berlimpah seperti yang digambarkan dengan
konotasi “kaya” di masyarakat. Top 0.01% memiliki ambang minimum
yang cenderung kurang stabil: berada di kisaran Rp 1.8-3.2 milyar/tahun, atau
sekitar Rp 149.61-269.31 juta/bulan.
Kurangnya data-data pembanding yang sejenis menyebabkan kita tidak dapat merumuskan
seberapa kaya seseorang untuk disebut kaya.
2. Pengamatan lebih memungkinkan kita
mengetahui dampak dari kegiatan-kegiatan individu kaya terhadap masyarakat
secara luas
Dalam konsensus di
sektor keuangan internasional, individu kaya didefinisikan sebagai mereka yang
memiliki aset likuid (investable assets) lebih dari US$ 1 juta, sedangkan
individu ultra-kaya didefinisikan sebagai mereka yang memiliki aset likuid
lebih dari US$ 30 juta. Di tahun 2011, terdapat sekitar 37,400 orang Indonesia
yang termasuk dalam kategori individu kaya/HNWI (High Net Worth Individuals)
dan 626 individu ultra kaya/UHNWI (Ultra High Net Worth Individuals). HNWI dan
UNHWI, setidaknya dalam sektor keuangan, diperlakukan seperti layaknya
korporasi karena jumlah uang yang dimiliki individu ini serta dampak dari
transaksi dengan individu ini jauh lebih mirip dengan nasabah korporasi
dibanding nasabah individual biasa.
Kenyataannya, dampak
dari kekayaan para individu ini tidak hanya dirasakan di sektor keuangan; dalam
banyak aspek perekonomian, individu kaya sangat berbeda dengan
individu-individu biasa. Individu-individu ini, dengan kekayaannya, memiliki
daya tawar (bargaining power) yang jauh lebih tinggi dibanding agregat dari
golongan masyarakat lainnya. Sebagai contoh, individu-individu kaya seringkali
jauh lebih berpengaruh terhadap kebijakan publik yang diambil serta dapat
mengarahkan kebijakan publik sehingga menguntungkan mereka. Perbedaan pola
konsumsi golongan kaya serta daya beli yang jauh lebih tinggi juga mendistorsi
alokasi sumber daya di masyarakat dari memenuhi pasar yang lebih luas untuk
melayani kebutuhan golongan kaya. Sebagai contoh, tidak sedikit lahan perkotaan
dan pedesaan serta tenaga kerja yang dialokasikan untuk lapangan golf, arena
berkuda, pusat belanja upscale,
penambahan luas jalan serta kebutuhan-kebutuhan lainnya alih-alih untuk
fasilitas yang dapat dijangkau oleh masyarakat kebanyakan.
3. Pengetahuan
yang baik tentang golongan kaya memungkinkan adanya kebijakan publik yang sesuai
Di
tengah keterbatasan tentang deskripsi yang menyeluruh mengenai kegiatan ekonomi
orang kaya dan dampaknya terhadap masyarakat luas, pemerintah tidak dapat
mengambil kebijakan publik yang paling sesuai untuk masyarakat secara luas.
Sebagai contoh, pengetahuan tentang pola konsumsi produk-produk tertentu oleh
segmen premium (golongan kaya) dapat membantu pemerintah untuk mengenakan pajak
yang lebih tinggi. Contoh lainnya, adanya pengetahuan tentang kecenderungan
pembelian unit perumahan dalam jumlah besar oleh golongan kaya untuk spekulasi
dapat membantu pemerintah secara spesifik dalam menyusun peraturan tentang
pembatasan pembelian rumah. Dari segi pendapatan, pengetahuan spesifik tentang
kecenderungan orang kaya untuk meraup pendapatan lewat passive income (dividen,
royalti, dsb.) dan capital gain dapat membantu pemerintah untuk melakukan penyamarataan pajak atas pendapatan
non gaji untuk alasan keadilan.
Pengetahuan
yang lebih tentang mereka yang mendominasi kehidupan bermasyarakat adalah sama
pentingnya dengan pengetahuan tentang mereka yang termarjinalkan dan mereka
yang merupakan penduduk rata-rata. Tanpa pemahaman yang lengkap tentang
golongan kaya, adalah sulit untuk mengambil sikap dan tindakan yang benar
terhadap golongan kaya untuk kemaslahatan masyarakat keseluruhan.
8.5.13
[Kajian Post] Bibit Unggul sebagai Pendorong Skalabilitas Sektor Pangan Indonesia
Oleh : Teresa Puspita Saraswati | Wakil Kepala Divisi Kajian KANOPI 2013 | Ilmu Ekonomi 2011
Sektor agrikultur merupakan salah satu sumber
mata pencaharian terbesar mayoritas rakyat Indonesia. Hal ini telah terjadi
secara turun-temurun sejak zaman prasejarah, dinasti kerajaan, hingga
penjajahan Belanda, sampai dengan saat ini. Kebanyakan dari rakyat kita masih
menggunakan sistem pertanian tradisional dalam pengolahan lahan tanamnya,
sehingga panen pun belum optimal.
Pada zaman Orde Baru, pembangunan Indonesia
sungguh dirintis dari sektor pertanian dan perkebunan. Pemerintah Orde Baru
mencanangkan REPELITA (Rencana Pembangunan Lima Tahun) I per periode 1969-1974
yang menekankan kebangkitan pertanian kita[1]. REPELITA
I pun menekankan mengenai pengadaan bibit unggul (PB dan IR 5 dan 8) secara
ekstensif bagi pertanian di Indonesia[2]. Di
era 1970an akhir, sebagai net exporter minyak,
negara kita memiliki trade surplus
yang kemudian didistribusikan pemerintah dalam bentuk subsidi untuk sektor pertanian[3]. Subsidi
pupuk, bibit unggul, dan berbagai bantuan kredit secara kontinu membawa
Indonesia ke dalam fase swasembada pangan pada era 1980an. Walau demikian, tetap
ada bubble seperti krisis beras 1972
akibat kacaunya logistik inbound (suplai
bibit) maupun outbound (distribusi) beras
di Tanah Air serta gagalnya fungsi BULOG sebagai lembaga stabilitas harga
pangan.
[1] BAPPENAS.
Dokumen Rencana Pembangunan Lima Tahun
(REPELITA).
http://www.bappenas.go.id/node/42/1700/dokumen-rencana-pembangunan-lima-tahun-repelita/
[2] Ibid.
REPELITA 1, Bab 3
[3] Fatih
Gama A. N. (2002). Dinamika Kebijakan
Pangan Orde Baru: Otonomi Negara vs. Pasar Global. Jurnal Ilmu Sosial dan
Ilmu Politik, Vol. 5, No. 3, Maret 2002 (271-294)
Fokus pada bibit di REPELITA secara
komprehensif dilakukan mulai dari penyediaan awal bibit dari PB dan IR dari
pemerintah, penyuluhan kepada petani untuk penyebaran bibit, mempertahankan
kemurnian benih, serta mendirikan kebun-kebun benih baik pemerintah maupun
swasta. Kemudian, dilakukan juga gerakan perbaikan benih untuk mengembalikan
kemurnian dari benih-benih unggul tersebut. Sekedar informasi, di tahun 70an
saja, bibit unggul sudah mampu meningkatkan produktivitas lahan untuk
menghasilkan sampai dengan 1,75-2,75 ton per ha[1].
Korelasi positif dari bibit terhadap produktivitas lahan merupakan salah satu
catatan krusial dalam meningkatkan skalabilitas sektor agrikultur.
Relevansi kebutuhan akan bibit yang baik
semakin terasa dewasa ini. Adanya urbanisasi besar-besaran dari penduduk
pedesaan akan berdampak pada menurunnya jumlah petani dari waktu ke waktu. Hal
ini berarti, sektor pertanian tradisional akan semakin kekurangan SDM untuk
menghasilkan output pangan dalam memenuhi demand
lokal. Menurut estimasi McKinsey[2],
pada 2030, petani Indonesia harus meningkatkan produktivitasnya hingga 60% (5
ton/hari) untuk mampu menyuplai demand domestik.
Jika dibandingkan dengan era 1970an,
perkembangan varietas bibit unggul di Indonesia sudah sangat bervariasi.
Tanaman padi saja diestimasi mencapai 116 varietas di seluruh nusantara[3].
Varietas bibit-bibit padi di Indonesia tercatat BPS memproduksi komoditas padi,
padi sawah, dan padi ladang sebesar 65.757 ribu ton pada tahun 2011. Pemerintah
pun menunjukkan itikad untuk menguatkan ketahanan pangan dengan meningkatkan
porsi APBN sebesar + 3 kali lipat (Rp 23T pada 2007) menjadi Rp 63,2T
pada 2013 untuk menuju surplus beras[4].
Menurut Susenas BPS 2011, rata-rata per kapita
konsumsi beras Indonesia sebesar 89,477 kg. Dengan asumsi sederhana penduduk
Indonesia 260 juta orang, demand
agregat akan beras akan mencapai 23.264 ribu ton, yang berarti jauh dibawah
produksi padi Indonesia secara total. Nah, ke mana kah supply yang hilang ini?
Tentu pertama-tama kita tidak dapat mengabaikan
faktor produksi defect, beras yang
berkualitas sangat rendah, serta dead
weight loss dalam perekonomian akibat adanya kegagalan-kegagalan aktivitas
ekonomi sepanjang rantai suplai pangan. Kedua, Indonesia pun mengekspor beras, sementara mengimpor beras-beras berkualitas
lebih tinggi untuk lumbung-lumbung BULOG. Ketiga, seringkali hasil komoditas
pangan seperti beras hanya untuk dikonsumsi pribadi, sehingga tidak terhitung
dalam perekonomian (household production).
Apabila gap
ini dapat diatasi, dimulai dari beras misalnya, bukan mustahil di tahun-tahun
kedepan Indonesia mampu mencapai swasembada pangan. Namun, perlu juga dicatat
bahwa seiring dengan demographic peak
yang dimiliki Indonesia, pertumbuhan populasi nasional pun masih akan terus
meningkat, sehingga demand akan bahan
pangan pun tetap kuat. Salah satu cara mengatasi gap dari mekanisme penawaran dan permintaan ini ialah peningkatan
produktivitas terhadap tanaman pangan, yang dimulai dari akarnya yakni bibit.
Bibit unggul adalah salah satu solusi krusial
yang harus disosialisasikan dan dilestarikan oleh pemerintah, instansi terkait,
serta institusi pendidikan terhadap sektor agrikulltur di Tanah Air. Petani di
Indonesia tersebar secara struktural dan masih menggunakan sistem tradisional,
sehingga pembangunan produktivitas sektor agrikultur akan membutuhkan suntikan
modal yang besar. Namun, return yang
akan didapat dari pemenuhan demand domestik
ini di-breakdown dalam table berikut
(Sumber: McKinsey).
Skenario produktivitas yang diajukan McKinsey
didasarkan dari data Deptan, dengan forecast
positif di mana Indonesia dapat menjadi eksportir net bahan pangan pada 2030
dengan meningkatkan produktivitas terutama dalam sektor komersil. Di sini
negeri kita menghadapi dilema lain lagi: stabilitas pangan, atau stabilitas
neraca perdagangan?
Well, untuk stabilitas pangan, berarti emphasize kita ialah pada produksi bibit unggul seperti IR, dkk.
yang berguna untuk bahan pangan. Sementara itu, stabilitas neraca dagang
berarti penekanan pada bibit untuk kelapa sawit (oilseed) yang semakin akan booming,
termasuk sebagai energi alternatif, di tahun-tahun ke depan.
Dalam fenomena keterbelakangan kemandirian
pangan Indonesia saat ini, dan sejalan dengan itikad pemerintah, ada baiknya
kita mempertimbangkan prospek untuk bahan pangan utama, layaknya komoditas padi
dan palawija, buah-buahan dan sayur-mayur. Impor bahan pangan, misalnya beras, memang
tidak buruk, namun sampai kapan negeri kita menggerogoti lahannya dengan kelapa
sawit karbit.
Mari kita bandingkan produksi Indonesia dengan
Myanmar sebagai the world’s #1 rice net
exporter, disamping fakta bahwa luas panen padi Indonesia sekitar 13,2 juta
Ha pada 2011, sekitar 20% dari keseluruhan wilayah negara Myanmar. Angka-angka
ini akan terdengar miris mengingat lebih dari 95% WNI mengkonsumsi nasi setiap
hari. Urgensi pemenuhan demand
domestik pun makin terasa, yang membutuhkan usaha reformasi struktur aktivitas
ekonomi dari akar tanaman hingga ke perut kita semua. Tentu, dalam usaha
produktivitas pertanian, apapun itu bibit unggul yang ditekankan, akan
dibutuhkan pula penggelontoran investasi yang memadai.
Dari hulu ke hilir, pekerjaan rumah pemerintah
selain penyediaan bibit masih panjang. Pendanaan untuk sistem irigasi, sarana
infrastruktur seperti rintisan akses jalan serta perbaikan jalan rusak untuk
distribusi, serta mekanisme distribusi yang inklusif bagi pedagang lokal—agar
tidak kalah saing secara “cost of goods
sold” dengan barang impor[1],
hingga stabilitas lumbung pangan nasional pun masih harus dibenahi.
Apabila skalabilitas sektor agrikultur
tradisional di Indonesia sejak dari bibit berhasil dikembangkan sampai potensi optimumnya,
akan banyak petani-petani baru berangkat dari pengangguran; efek
interdependensinya pun besar, baik terhadap lingkungan sosial yang terkena multiplier effect maupun supply chain dari komoditas pangan
sendiri yang ikut terkena cipratannya.
**
[1] Kompas
pernah membahas, pengiriman jeruk dengan jenis dan besaran yang sama dari Cina
ke Indonesia hanya memakan biaya pesawat Rp 5 juta, dibandingkan dari Indonesia
Timur yang membutuhkan kargo hingga Rp 10 juta.
24.4.13
Transatlantic Trade Agreement and Its Challenge
Jaysa Rafi Prana | Staff Kajian Kanopi 2013 | Ilmu Ekonomi
2012
Jakarta, March 13, 2013
The idea of integrating US and Europe economy first came to
notion after Obama delivered his
State of Union address in the beginning of February. This
idea is strongly supported by several
prominent leaders in Europe such as Angela Merkel from
Germany and David Cameron from
England, who reacted very positively after Obama gave a
statement that mark the beginning
of a new era of cooperation between two biggest economy in
the world. US and Europe, which
accounted for 50% of world’s GDP, are working on reducing
tariff and removing regulatory
barrier by harmonizing standards and norms in doing business.
By making some reform and
agree to an agreement which is believed will help the
recovery process of economic condition
of both sides, applying these agreement both sides will be
benefited by more economic growth
that will increase by 1,5%; secures an estimate 15 million
jobs. Furthermore, according to
EU Trade Commissioner Karel De Gucht, this plan will be the
cheapest stimulus plan that will
save about 32 billions of dollars yearly that is resulted
from the cut in tariff and other barriers.
Nevertheless, there are still some challenges that may
hinder the transatlantic trade agreement
that will be discussed in these following paragraphs.
Compared to Europe, US condition is more stable in terms of
growth and other macroeconomic
indicator such as inflation and unemployment rate. In 2012,
us economy grew at about
2% which is not a very bad number considering there are
still a lot of nation that booked
0% of growth or even negative like what has been happening
in Europe. Furthermore, the
unemployment rate in US reaches its lowest at 7.7% rate for
the first time in five years with the
index of dow jones also reached its highest points in early
march that brought up confidence on
us economy followed by good response from all over the world
on the financial sector trading.
Although US economy is growing and heading into a better
direction, its political condition
is still in a really bad shape. For instance, almost all the
bill those have to be passed never
get majority vote and facing a gridlock like what happened
for the fiscal cliff and the recent
budget cut bill that resulted in the cut of 85 billion
annual spending this year and obligation
to cut 1,2 trillion dollars in the next ten year. On the
contrary, Europe is still in a very bad
situation in terms of economy and politics. Many of the
countries in Europe still have negative
growth and high employment rate. Let me take one example of
Italy which is one of Europe
biggest economy, its economy shrink by 2.2% with its debt to
ratio reaching 126% and its
unemployment rate is still hanging on 11.7% (Reuters).
Moreover, on the last election there
is no clear winner and the country left with no majority
ruler that can be very bad in decision
making process. This catastrophic economic condition is also
occurred in Spain and Greece
which have twice of unemployment rate as Italy does.
There are two main obstacles in reaching this transatlantic
agreement as far as I’m concerned.
The first one is the two sides already have a pretty low
tariff barrier by now with average tariff
levels are only 3% which the products they consume and
produce are not much different as
well as the similar standard of living. For instance, both
sides are more likely have high skilled
workers, similar or almost the same technological
advancements and minimum wage, so there
will be no significant different that may occur by pushing
any freer market. Another thing
is both sides have a calamitous political condition that
will only be deteriorated by pushing
another long term agreement if each of them alone cannot
overcome their short-term drama
in making local regulations. Furthermore, making a treaty
with this magnitude must be a very
difficult and time consuming as the very detail of this agreement
need to accommodate both
sides’ needs and preferences.
In brief, while there are many benefits that can be gained
by pushing Transatlantic Trade
Agreement such as boosting economic growth and creating
jobs, yet the obstacles that lay
ahead Europe and US are still severe and needing their
utmost attention to get things done.
Therefore, in my opinion, this Transatlantic Trade has no
urgency to be constructed and
implemented in the near future. Countries across the Europe
and US itself still need to fix
their political and economic condition before they want to
push any huge international trade
agreement.
21.4.13
[Team Building] Kanopi FEUI 2013
Setelah 2 Minggu menghadapi UTS , Biro Internal Kanopi FEUI
2013 mengadakan Team Building bagi seluruh pengurus Kanopi. Acara ini berlangsung tanggal 12-14
April 2013 , di sebuah Villa yang terletak di Puncak Bogor. Pada Jumat malam dari FEUI keberangkatan di
mulai sekitar pukul 8. Di dalam perjalan
menggunakan Bis Kuning (Bikun) ada kejutan surprise untuk Wakabiro Hubungan
Luar (Hublu) Faiqa Fitriani yang berulang tahun pada hari itu. Hingga akhirnya
setelah kurang lebih 2 jam seluruh keluarga besar Kanopi 2013 sampai di Villa
yang dituju. Sesampainya di villa ada yang memilih untuk langsung beristirahat
tetapi ada juga yang masih melakukan hal lain atau sekedar menonton tv.
Keesokan paginya kegiatan dimulai dengan senam pagi sehat
dan santai yang di pimpin oleh Biro Internal, sesudah itu sarapan pagi dan
dilanjutkan dengan games perkenalan yang sudah dipersiapkan oleh Biro Internal.
Games yang pertama adalah ‘menangkap penjahat’. Dimana games ini di bagi
menjadi siapa yang menjadi polisi, penjahat, dokter dan masyarakat menggunakan
kartu remi.. Kemudian dilanjutkan oleh Games seru lainnya, yaitu ‘Mengenal
Kanopi’. Games ini
bertujuan untuk saling mengenal dalam pengurus kanopi, dalam games ini setiap
tim akan menebak siapa orang yang di peragakan. Antusias terlihat dimana setiap
tim terlihat sangat bersemangat dalam menebak siapa orang yang di peragakan. Games ke 3 adalah games ‘menyampaikan
pesan’. Dimana setiap anggota kelompok harus menyampaikan sebuah pesan kepada
anggota lainnya, namun kita harus memutar villa yang cukup luas untuk
menyampaikan pesan tersebut. Dan hanya 1 tim yang berhasil menyebutkan pesan
yang disampaikan dengan tepat. Bagi tim yang kalah harus tanding lagi dimana
mengangkat 1 kaki dan harus bisa menjatuhkan tim lawan. Gelak tawa pun
menghiasi permainan ini.
Setelah makan siang, kegiatan team building dilanjutkan
dengan games air, dalam games air ini dibagi menjadi dua tim yang harus mengambil
bola-bola dengan tiap huruf berbeda untuk menjawab soal pertanyaan dari Biro
Internal. Akhirnya games air ini dimenangkan oleh tim 1.
Setelah makan malah tibalah acara puncak dari team building
itu sendiri, dimana setiap Biro ataupun Divisi harus mempersembahkan
performance yang sebelumnya telah ditentukan tema yang berbeda untuk setiap
divisi dan biro. Walaupun persiapan yang cukup singkat dikarenakan sebelumnya
uts. Namun penampilan setiap divisi & biro tetap membuat gelak tawa
memenuhi ruangan dengan kegilaan & keunikan yang berbeda-beda dari setiap
divisi dan biro. Games performance ini akhirnya dimenangkan oleh Divisi Kajian
dengan tema “Misteri Gunung Berapi”. Tidak lama setelah penampilan semua Divisi
dan Biro, tepat pukul 12.00 salah seorang dari pengurus Kanopi berulang tahun
yaitu Edith Zheng Wen Yuan merupakan staff Divisi Penelitian. Semua pun
menyanyikan lagu untuk Edith. Kemudian semua anggota Kanopi pun kembali
beristirahat.
Hari terakhir team building, diisi dengan kegiatan games dimana
terdapat pos-pos yang harus dilalui oleh setiap tim. Setiap pos terdapat clue
tentang sebuah tempat, dan setiap tim harus menuju ke tempat tersebut. Setelah
melewati seluruh pos-pos dan tiba di tempat yang di tuju, ada games lagi untuk
menambah point. Dalam games ini antusias terlihat di wajah seluruh anggota
Kanopi namun tetap sportive dan games ini juga memberikan keakraban yang lebih
di antara pengurus Kanopi. Hingga akhirnya point
tertinggi di menangkan oleh Kelompok ke 3. Setelah games ini berakhir, semua
pengurus merapikan kembali dan packing barang bawaan.
Team
Building pun ditutup dengan sesi foto seluruh
anggota Kanopi dan sesi foto untuk setiap divisi dan biro. Dan kembali ke rumah
atau kosan serta kembali ke rutinitasnya masing-masing.
Subscribe to:
Posts (Atom)


