11.11.12

[Kajian Post] To Love or Not To Love: To Choose The Right One

                       Oleh : RachmatReksa S. | Staff DivisiKajianKanopi 2012 | IlmuEkonomi 2011


Tulisan saya kali ini merupakan lanjutan dari tulisan saya yang sebelumnya yang berjudul “To Love or Not To Love.” Banyak yang merespondan bertanya apa ekuilibrium antara market span boy dan girl terjadi. Sebenarnya, kita bisa saja menggabungkan kedua kurva yang ada dalam tulisan tersebut dan menjadikan titik pertemuannya menjadi titik ekulibrium—titik di mana laki-laki dan perempuan tersebut bertemu dan menjadi pasangan. Namun, kita hanya bisa melihat tersebut dari rentang waktu saja (phase). Mungkin, hal tersebut bisa kita sebut dengan ungkapan “finding someone in the right time”, namun belum tentu “finding the right one.”


Pertanyaan yang mungkin ada di benak kita: siapakah orang yang tepat untuk dijadikan pasangan kita? Mungkin hal ini bisa dijelaskan oleh fenomena pasar dalam ekonomi. Pasar konvensional yang sering kita temui dalam kehidupan sehari-hari merupakan pasar yang menggunakan alat tukar dalam transaksinya. Salah satu alat tukar yang sering digunakan dalam transaksi adalah uang. Namun, ada beberapa pasar yang dalam transaksinya tidak membutuhkan uang. Pasar tersebut bisa saja adalah pasar dalam mencari pasangan.

Ada teori yang bisa menjelaskan siapa sebenarnya orang yang tepat untuk kita pilih. Shapley dan Gale (1962) dalam paper mereka “College Admissions and the Stability of Marriage” dapat menjelaskan pertanyaan kita—yang selanjutnya oleh Alvin Roth dan akhirnya Shapley dan Roth mendapat Nobel Prize in Economics tahun 2012 dengan judul paper mereka “The Theory of Stable Allocations and The Practice of Market Design.”

Choosing The Right One

Mari kita ilustrasikan bahwa ada tiga orang laki-laki, yaitu A, B, dan C, dan juga ada tiga orang perempuan, yaitu X, Y, dan Z dalam suatu pasar. Mereka ber-enam sedang mencari pasangan dan mempunyai preferensi yang berbeda terhadap setiap orang dari jenis kelamin yang berbeda. Untuk mempermudah, saya membuat sebuah preferensi, yaitu:




Mari kita lihat hubungan antara A dan X sebagai contoh. X menjadikan A sebagai laki-laki yang paling favorable untuk dijadikan pasangan, karena berada di posisi pertama, namun A hanya menjadikan X sebagai preferensi ketiga diantara perempuan yang ada. Apabila A dan X dipasangkan, maka mereka tidak akan pernah mencapai kestabilan dalam hubungannya karena A menganggap pasangannya adalah orang yang unfavorable (berada di posisi ketiga),sehingga dapat menyebabkan perselingkuhan dan beralih kekeperempuan yang mempunyai posisi preferensi yang lebih tinggi. Selain itu, apabila diaplikasikan kedunia nyata, si perempuan (X) hanya akan merasakan “bertepuk sebelah tangan” dalam hubungannya bersama X.

Selanjutnya, mari kita lihat hubungan antara A dan Y yang mempunyai ordinat matriks (2, 2). A menjadikan Y sebagai perempuan kedua dalam preferensinya, dan juga Y menjadikan A sebagai laki-laki kedua dalam perferensinya. Dalam keadaan yang seperti ini, baik A dan Y dapat dikatakan sudah merasa stabil dalam hubungannya. Kemungkinan salah satu pihak untuk berselingkuh dan pihak lainnya “ditepuk sebelah tangan” menjadi kecil.

Pada dasarnya, apabila laki-laki dan perempuan di matriks tersebut mempunyai angka ordinat yang tidak sama, seperti (1, 3) dan (3, 1), maka hubungan mereka tidak akan pernah stabil karena salah satu pihak akan ada yang tersakiti dan ada yang menyakiti. Apabila ordinat matriks tersebut mempunyai angka yang sama, (2, 2), maka hubungan mereka akan stabil karena masing-masing pihak menganggap sudah memilih pasangan yang tepat dan probabilitas terjadinya kecurangan dalam hubungan menjadi sangat kecil. Pun, apabila ada kecurangan dalam hubungan yang sudah stabil, maka hal itu menjadi error term.

Berdasarkan penjelasan di atas, maka didapat ekuilibrium laki-laki dan perempuan:
Dalam Fig 2.1, ordinat yang berwarna merah menunjukkan ordinat yang sudah stabil. Berarti, masing-masing orang sudah menemukan pasangan yang tepat. A bersama Y, B bersama X, dan C bersama Z. Kondisi inilah yang menggambarkan stabilitas dan juga ekuilibrium dalam sebuah “pasar” dalam mencari pasangan. Si A mempunyai preferensi Z, lalu Y, dan terakhir X. Begitu pun juga si X mempunyai preferensi A, lalu B, dan terakhir C dan seterusnya dalam pembacaan Fig 2.1 Preference Matrix.


Conclusion
Matrik preferensi yang sudah saya jelaskan—atau lebih tepatnya menjelaskan kembali karya Roth dan Shapley—sangat bisa diaplikasikan dalam kehidupan nyata dalam mencari pasangan. Bahkan, tidak hanya dalam mencari pasangan, Roth dan Shapley juga sebenarnya merumuskan “Stable Allocations” untuk mencari dan menjodohkan pembeli dan penjual yang dalam transaksinya tidak memerlukan uang, seperti pasar ginjal manusia (apabila menggunakan uang, maka akan dianggap ilegal) dan pasar dokter dalam mencari rumah sakit yang cocok untuk dijadikan tempat kerjanya.

Saya yakin kita semua pernah merasakan berada di matriks preferensi tersebut. Maka, untuk kedepannya, bagi kalian yang membaca tulisan ini, bijaklah dalam mencari pasangan agar hubungan kedepan itu stabil dan longlast, dan juga tidak perlu ada yang menyakiti dan disakiti.

Good luck!
#loveconomics serial






No comments:

Post a Comment